Elang Gumilang – Mahasiswa Pengembang Rumah Murah

  • Ia seorang pengusaha. Tapi Selasa dua pekan lalu, di dalam Toyota Rush berwarna silver yang tengah meluncur di Jalan Dramaga, Kabupaten Bogor, ia bukan cuma pengusaha.Duduk di belakang sopir yang membawanya ke proyek Griya PGRI di Ciampea, 20 kilometer dari pusat Kota Hujan, ia tampak serius membaca. Ia mempersiapkan diri menghadapi sidang skripsi esok hari, tanpa meninggalkan kegiatan sebagai pengusaha. Ia, Elang Gumilang, 24 tahun, mahasiswa sekaligus direktur utama sebuah pengembang perumahan. Dan itu sebuah usaha dengan prestasi mengesankan: berhasil membangun lebih dari seribu rumah sederhana di empat proyek perumahan di Kabupaten Bogor. Bermodal awal Rp 300-an juta, kini nilai proyek Elang Group terbang menembus Rp 17 miliar.Elang, sulung dari tiga bersaudara, tidak pernah menyumpal bakat bisnis dan keuletan yang diturunkan- ayahnya, H Misbah-kini 58 tahun, yang punya usaha kontraktor kecil-kecilan. Saat belajar di Sekolah Mene-ngah Atas Negeri 1 Bogor, Elang sudah berbisnis: menjual donat. Kegiatan ini baru berhenti ketika orang tuanya melarang.Tapi Elang, dengan bakat dan kecerdasannya, terus mencari uang, kali ini dengan mengikuti aneka lomba. Elang pernah muncul sebagai juara ketiga Marketing Games Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia di Universitas Trisakti. Ia juga juara pertama kompetisi Ekonomi SMA Se-Jabodetabek 2003 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan juara pertama Economic Contest di Institut Pertanian Bogor, tahun yang sama. Uang Rp 10 juta terkumpul. Elang mendapat “tiket gratis” masuk Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.Di IPB, jiwa bisnisnya berkembang lebih mekar. Pada tahun pertama, Elang menjual sepatu. Berbekal katalog, ia menawarkan sepatu dari satu asrama ke asrama mahasiswa di Kampus Biru itu. Ia juga pernah menjual lampu. Minyak goreng adalah dagangannya selanjutnya. “Saya sempat diajak,” kata Roni Jayawinangun, sahabat Elang.Memasuki tahun ketiga, Elang dan 12 kawannya membuka kursus bahasa Inggris, English Avenue, di kampusnya dengan modal Rp 21 juta. Elang menjadi direkturnya. Sambil mengisi waktu luang, dia menyambi menjadi tenaga pemasaran salah satu perusahaan properti di Bogor. Tak ada gaji, hanya mendapat komisi jika berhasil menjual rumah.

    Berbekal pengalaman menjadi salesman pengembang, Elang nekat berbisnis sendiri. Pada 2005, penggemar traveling itu mencoba ikut tender rehabilitasi sekolah dasar di Jakarta. Nasib baik. Proyek senilai Rp 160 juta digenggamnya. Ia makin percaya diri menggeluti dunia properti. Pada 2006, di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, dia mengubah akta perusahaan yang hampir tutup menjadi Elang Group. Tanah nganggur milik sebuah instansi di Cinangneng, Kabupaten Bogor, diliriknya. Sayang, modalnya cekak. Bank juga enggan mendanainya. Tak menyerah, Elang mengajak lima kawannya dan terkumpul duit Rp 340 juta.

    Lantas dia membujuk Bank Ta-bungan Negara (BTN) bekerja sama menyediakan kredit pemilikan rumah sederhana bersubsidi (KPRS) bagi masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 2,5 juta. Deal, BTN setuju. Pada 2007, Elang Group menjual rumah murah. Harganya mulai Rp 25 juta (tipe 21/60) berbunga 4,5 persen per tahun dan maksimal Rp 55 juta (tipe 36/72) berbunga 7,5 persen per tahun. Cicilannya Rp 25-90 ribu per bulan.

    Proyek perdana Elang Group di Perumahan Griya Salak Endah itu berhasil. Sebanyak 450 unit rumah terjual. Pembelinya buruh, pedagang, tukang tambal ban, dan guru. “Saya tergerak menyediakan rumah murah karena banyak orang kecil kesulitan membelinya,” ujar Elang.

    Pada 2008, Elang membangun lagi Perumahan Bukit Warna Sari Endah, Cilebut, Bogor. Ekspansi Perumahan Griya Salak Endah II juga sukses. Pada 2009, Elang mengambil alih proyek Griya PGRI di Ciampea yang tak bisa diselesaikan oleh pengembang lain.

    Seorang bankir di BTN Cabang Bogor yang minta namanya tak disebut mengatakan salut kepada Elang. Kendati bukan anak pejabat atau pengusaha besar, jaringan Elang luas. “Biasanya butuh tiga bulan menyelesaikan izin,” ujarnya, “tapi Elang cuma butuh sebulan.” Kele-bihan lain, Elang tak mengambil kredit konstruksi dari bank.

    Menurut Elang, setelah dirinya menyelesaikan pembebasan lahan, perizinan, site plan, cut and fill, hingga meneken perjanjian dengan bank, giliran kawan dan mitranya berperan. Mereka bahu-membahu menyediakan modal pembangunan rumah. Strategi ini efektif. Empat proyek sudah memberikan keuntungan bagi para pemodalnya. Dukungan kawan-kawannya pun terus berlanjut hingga kini.

    Permasalahan Elang justru di ku-liahnya. Tak seperti di Sekolah Sertifikasi Properti dan Asian Coach, skripsi di IPB terkatung-katung hingga tahun keenam. “Sudah lebih dari 25 kali ganti draf skripsi,” ujarnya. Menurut Ketua Departemen Fa-kultas Manajemen IPB Jono M. Munandar, secara akademik Elang tidak ada masalah. Indeks prestasi kumulatifnya mencapai 3 dari skala 4. Tapi kuliahnya kedodoran. “Kami mendorongnya cepat menyelesaikan kuliah agar menjadi contoh bagi mahasiswa lain.”

    l l lRabu siang dua pekan lalu, Elang keluar dari ruang Sekretaris Departemen Manajemen, di lantai 3, kampus IPB Dramaga. Bercelana hitam dan berjas gelap keabu-abuan yang dipadu dasi merah, dia tersenyum cerah. Elang baru saja menyelesaikan ujian sidang skripsi. “Insya Allah bisa lulus dan ikut wisuda tahun depan.” Pria yang baru saja menikah dua bulan ini bisa berfokus mengurus bisnis pro-pertinya. Situs http://www.elanggumilang.com dibuatnya untuk menjaring mitra baru. Dengan penyempurnaan struktur organisasi, Elang sedang menatap tiga proyek baru di Citayam Residence; Kampung Soenda Cigudeg; dan Mekarsari Elok Re-sidence, Cileungsi.


    Saat penyeleksian wirausaha mandiri 2007, saya sependapat dengan juri, Elang anak muda berintuisi bisnis baik. Perhitungan dan cara berpikir bisnisnya jelas serta berani mengambil kesempatan. Elang punya potensi menjadi wirausaha sukses.

    Tapi Elang tak boleh terlena. Untuk menjadi pengusaha sukses, masih perlu waktu dan ketekunan. Wajib menjaga kepercayaan dan perlu berdisiplin mengelola usaha. Dalam kompetisi ketat, pengusaha harus berfokus dan pandai mengelola ambisi.
    -Agus Martowardojo, Direktur Utama Bank Mandiri

    Kondisi bangunan sesuai dengan harga. Listrik ada. Tapi belum ada fasilitas air ledeng. Air diambil dari sumur dengan mesin pompa air pemberian Elang Group. Kekurangan perumahan ini hanyalah tak ada tempat bermain untuk anak-anak.
    -Dewi Fatimah, 35 tahun, pembeli Blok F Nomor 5, Bukit Warna Sari Endah, Cilebut

    Penghargaan

  • Wirausaha Muda Mandiri terbaik Indonesia 2007
  • Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi 2008
  • Man of the Year 2008 dari Radar Bogor
  • Pemuda Pilihan 2008 dari TV One
  • Indonesia Top Young Entrepreuner 2008 dari Warta Ekonomi(Sumber http://majalah.tempointeraktif.com)

2 responses to this post.

  1. jadi semangat wirausaha nih..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: